Sunday, March 11, 2007

History of Indonesian Photography

Sejarah fotografi di Indonesia dimulai pada tahun 1857, ketika itu dua orang tukang potret Woodbury dan Page membuka studio foto pertama mereka di sekitar Harmonie, Batavia. Ini terjadi hanya berselang 18 tahun setelah penemuan dunia fotografi pada tahun 1839. Sejak adanya studio foto di Batavia, banyak para tukang foto baik yang profesional maupun amatir membuat gambar hiruk pikuk kota dengan keanekaragaman etnisnya. Tentunya saat itu masih dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana, berupa kamera berukuran besar yang sangat berat, lensa yang mudah pecah, dan proses pembuatan gambar yang memakan waktu lama. Saat itu hanya dapat dibuat gambar dari obyek dengan posisi statis dan belum memungkinkan untuk membuat gambar dengan obyek bergerak. Tidak heran, foto-foto tertua hasil cetakan Woodbury dan Page yang menampilkan sebuah kota selalu sepi karena obyek yang bergerak tidak nampak dalam foto.

Sebagian besar foto pada masa itu dibuat dalam studio. Karenanya terdapat gambar pedagang makanan dengan para pembelinya membelakangi sebuah layar. Tampaknya untuk membuat foto ini, pedagang dan pembelinya harus digiring masuk studio foto. Pada masa sesudahnya, para juru foto menemukan pasar peminat foto-foto yang menurut kacamata Barat sangat eksotik, seperti foto seorang pengrajin, warung, wayang, penari ronggeng, dan pecandu opium. Kesemuanya harus masuk ke studio untuk dijepret juru potret dengan latar belakang gambar pohon palem atau hutan tropis untuk menciptakana suasana Asia (Indonesia).

Pada tahun 1900 terjadi kemajuan teknologi kamera yang dibuat lebih ringan dan tidak memerlukan waktu lama dalam pengambilan gambarnya yang memungkinkan para jurufoto mengambil foto di luar studio. Setelah 1920 kamera semakin ringan, harganya pun makin murah. Masyarakat Belanda di Batavia lantas banyak mengirimkan foto-foto pada keluarga mereka di negeri Belanda dan para wisatawan yang datang ke Batavia juga membuat foto kenang-kenangan mereka sebagai cinderamata. Banyak dari foto ini yang kemudian disumbangkan ke museum yang kini menjadi warisan penting bagi kita.
Di antara foto-foto yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta terlihat suasana di Pasar Pagi, Glodok, Jakarta Kota pada tahun 1930-an. Pasar ini masih nampak sepi baru berupa warung-warung kecil. Padahal pada tahun 1970-an pasar ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan grosir terbesar di ibukota yang kini telah dipindahkan ke Manggadua.
Jalan Jatinegara Timur yang kini merupakan kawasan pertokoan paling ramai di Jatinegara, di foto kuno itu tampak lalu lintasnya masih didominasi sado dan sepeda pada 1920-an. Tidak terlihat mobil satupun yang melintas. Tapi, suasana di Pasar Gambir (kini Monas) di foto yang diambil dari udara tampak menyedot pengunjung pada 1920-an. Pasar Gambir diadakan tiap tahun sejak 1898 untuk memperingati penobatan Ratu Wilhelmina dari Belanda (nenek dari Ratu Beatrix sekarang). Rupanya minat penduduk Batavia yang belum berjumlah setengah juta jiwa kala itu untuk menonton Pasar Gambir tidak kalah dengan padatnya PRJ (Pekan Raya Jakarta) sekarang.

Di Museum Sejarah DKI kita dapat melihat kembali bagaimana indahnya Hotel Des Indes di Jl Hayam Wuruk. Sampai awal 1960-an hotel itu merupakan hotel terbaik di Jakarta sebelum dibangun HI. Foto lain menunjukkan sebuah toko milik orang Arab di Batavia yang pemiliknya memakai jubah, sorban, dan peci putih. Barang dagangan yang digelar layaknya banyak terlihat di Tanah Abang sekarang ini. Seperti, minyak wangi, madu, korma, dan tasbih. Tampak pula pedagang Cina dengan rambut dikepang tengah menjual tekstil keliling kampung memakai keranjang seperti tukang loak. Masih ada foto pedagang India di Pasar Baru yang berjualan tekstil dan jasa penjahitan. Diantara foto tahun 1950, tampak trem yang penumpangnya membludak tidak kalah dengan KRL Jabotabek sekarang ini. Itulah secuil jepretan tukang potret kuno tentang kehidupan sehari-hari di Betawi di masa 1857-1950.
Source: Republika

Tuesday, March 6, 2007

History of Photography

SEJARAH mengenai fotografi memang tidak tercatat secara lengkap, namun berbicara mengenai teknologinya, fotografi secara umum sudah dikenal sekitar 150 tahun lalu. Namun, bila berbicara sejarah fotografi mengenai peran cahaya yang dihasilkan dalam gambar dua dimensi sangatlah panjang. Dari yang bisa dicatat saja, setidaknya "fotografi" sudah tercatat sebelum Masehi.
Fotografi yang kita kenal seperti saat ini awalnya merupakan hasil dari dua penemuan yang berbeda. Pertama merupakan penemuan dalam bidang ilmu alam yang menghasilkan apa yang disebut dengan kamera. Sedangkan penemuan yang kedua dalam bidang ilmu kimia menghasilkan apa yang disebut dengan film. Dari kedua penemuan inilah tahun demi tahun fotografi mengalami pekembangan yang cepat hingga sekarang.

Alma Davenport, dalam bukunya The History of Photography terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 sebelum Masehi, seorang ahli filsafat Cina Mo-Ti sudah mengamatisebuah gejala. Apabila pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Kemudian, pada abad ke-10 Masehi (965-1039), seorang sarjana Islam dan Ilmuwan Alhazen (Abu Ali al-Hasan Ibn Al-Haitham) menemukan sebuah fenomena yang sama dengan ber-eksperimen dengan lima lentera diluar tendanya dan di dalam tenda miliknya dibuat lubang kecil.

Fotografi secara resmi mulai tercatat pada abad ke-19 yaitu sekitar tahun 1839 dicanangkan sebagai tahun awal fotografi. Adalah negara Perancis yang pertamakali menyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi pada waktu itu. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.
Louis Jacques Mande Daguerre, menemukan fotografi dengan pelat logam dan dia sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Tapi, Pemerintah Perancis, dengan dilandasi berbagai pemikiran politik, berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma. Maka, saat itu manual asli Daguerre lalu menyebar ke seluruh dunia walau diterima dengan setengah hati akibat rumitnya kerja yang harus dilakukan.
Meskipun tahun 1839 secara resmi dicanangkan sebagai tahun awal penemuan teknologi fotografi yang baru, namun sebenarnya foto-foto telah tercipta beberapa tahun sebelumnya. Temuan Daguerre bukanlah murni temuannya sendiri. Seorang peneliti Perancis lain, Joseph Nicephore Niepce, pada tahun 1826 sudah menghasilkan sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang berjudul
View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.
Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya. Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera obscura sampai beberapa jam sehingga sampai tercipta imaji. Metode Niepce ini sulit diterima oleh orang, karena lama penyinaran dengan kamera obscura ini bisa sampai tiga hari, (wah, bisa ditinggal makan, tidur, dan mandi nih,).

Pada tahun 1827, Daguerre mendekati Niepce untuk menyempurnakan temuan itu. Dua tahun kemudian, Daguerre dan Niepce resmi bekerja sama mengembangkan temuan yang lalu disebut heliografi. Dalam bahasa Yunani, helios adalah matahari dan graphos adalah menulis. Niepce meninggal pada tahun 1833, dan Daguerre kemudian bekerja sendiri sampai enam tahun kemudian hasil kerjanya itu diumumkan ke seluruh dunia.
Perkembangan fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Tidak semata heliografi lagi bisa menghasilkan gambar, karena cahaya apa pun kemudian bisa dipakai, tidak semata cahaya matahari.
Penemuan cahaya buatan dalam bentuk lampu kilat/blist pun telah menjadi sebuah aliran tersendiri dalam fotografi. Cahaya yang dinamai sinar-X kemudian membuat fotografi menjadi berguna dalam bidang kedokteran.

Pada tahun 1901, seorang peneliti bernama Conrad Rontgen menemukan pemanfaatan sinar-X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya ini lalu mendapat Hadiah Nobel dan peralatan yang dipakai kemudian dinamai peralatan rontgen. Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot dan juga lampu kilat (blits) kemudian juga menggiring fotografi ke beberapa teknologi lain. Pada tahun 1940, Dr Harold Edgerton yang dibantu Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala-mati berkali-kali dalam hitungan sepersekian detik. Lampu yang kemudian disebut strobo ini berguna untuk mengamati gerakan yang cepat, seperti foto atlet loncat indah yang sedang bersalto, bisa difoto dengan strobo sehingga menghasilkan rangkaian gambar pada sebuah bingkai gambar saja.
Demikian pula penemuan film inframerah yang membantu berbagai penelitian. Kabut yang tidak tembus oleh cahaya biasa bisa tembus dengan sinar inframerah. Tidaklah heran, fotografi inframerah banyak dipakai untuk pemotretan udara ke daerah-daerah yang banyak tertutup kabut.

Foto Jurnalistik Pertama
Kemajuan teknologi memang memacu perkembangan fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar mesin jahit hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini dengan kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran, bahkan seukuran poster.
Temuan teknologi makin maju sejalan dengan masuknya fotografi ke dunia jurnalistik. Karena belum bisa membawa foto ke dalam proses cetak, surat kabar mula-mula menyalin foto ke dalam gambar tangan. Dan surat kabar pertama yang memuat gambar sebagai berita atau foto jurnalistik pertama adalah The Daily Graphic pada 16 April 1877. Gambar berita pertama dalam surat kabar itu adalah sebuah peristiwa kebakaran. Kemudian, ditemukanlah proses cetak half tone pada tahun 1880 yang memungkinkan foto dibawa ke dalam surat kabar.
Foto pertama di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyak Shantytown yang muncul di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat tanggal 4 Maret 1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton.
Banyak kemajuan cabang fotografi yang terjadi, tetapi banyak pula yang mati di tengah jalan. Foto Polaroid yang ditemukan Edwin Land, misalnya, pasti sudah tidak dilirik orang lagi karena kini foto digital juga sudah nyaris langsung jadi. Juga temuan seperti format film APSS (tahun 1996) yang langsung mati suri karena teknologi digital masuk langsung menggeser semuanya.